Selasa, 07 Februari 2012

Srintil Primadona Tembakau Temanggung

Tembakau Srintil


TEMANGGUNG, Wakil Bupati Temanggung Ir. Budiarto, MT  minta petani menjaga dan mempertahankan kemurnian tembakau srintil yang  berkualitas supaya dibeli  pabrikan dengan harga  mahal. Dengan demikian kepercayaan greder/pabrikan tetap tinggi sehingga petani  berpeluang mendapatkan keuntungan besar  guna meningkatkan kesejahteraannya.
     Hal itu dikatakan Wakil Bupati disela-sela melakukan kunjungan kerja meninjau  produksi tembakau srintil  di desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo   Kamis (22/9). Dalam peninjauan itu Wabup didampingi Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Ir. Rumantio , Camat Tlogomulyo Widodo Budi Wibowo  dan diterima Kepala Desa Tlilir  beserta Perangkat Desa dan sejumlah petani.
     “ Cuaca pada musim panen tembakau tahun ini sangat baik  cukup panas matahari sehingga menghasilkan tembakau berkualitas. Hal itu terbukti  perdagangan tembakau di sejumlah gudang  sangat ramai  dan harga jual tembakau kering relatif tinggi mencapai ratusan ribu rupiah. Bahkan di desa Tlilir saat ini sudah keluar tembakau srintil yang laku Rp.160.000/kg sehingga  petani bisa menikmati keuntungan“ Ujarnya seraya  berharap para greder membeli semua tembakau milik petani dengan harga tinggi.
     Menurutnya, tembakau Temanggung selama ini dikenal sebagai tembakau lauk  yang memiliki  keunggulan  dibanding tembakau luar daerah. Oleh karena itu guna mempertahankan kualitas supaya nilai jualnya tinggi, diminta petani menjaga kemurnian. Diutarakan, budidaya tembakau sampai saat ini masih menjadi andalan pendapatan petani dan memberikan  dampak bagi pergerakan perekonomian daerah. Agar usaha pertembakauan bisa berjalan efektif dan efisien maka petani sudah selayaknya menjaga mutu khas Temanggung dengan tidak mencampur tembakau impor.
     “ Tembakau srintil yang sangat harum baunya ini mesti dijaga kemurniannya supaya berkualitas tinggi . Keluarnya tembakau srinthil menguntungkan petani karena harga jualnya mahal mencapai ratusan ribu rupaih per kilogramnya , bahkan  tahun 2009 silam harganya menembus angka  Rp.600.000/kg” pintanya
     Nurhadi (59) salah seorang petani menuturkan  tembakau srintil mulai keluar sepekan terakhir ini yang ditandai baunya harum, warna coklat kehitam-hitaman dan pegangannya  lengket karena kandungan nikotin tinggi. Diakui srintil yang keluar pertama ini masih kualitas awal  sehingga harga jualnyapun belum mahal Rp.160.000/kg. Srintil kualitas puncak yakni baunya lebih harum, warna lebih hitam dan pegangannya bertambah lengket biasanya dihasilkan petikan daun terakhir atau dikenal dengan sebutan  protholan . Berdasarkan pengalaman tahun 2009, srintil kualitas puncak harga jualnya mencapai Rp.600.000/kg. Diakui tembakau srintil tidak setiap musim keluar, jika cuaca  baik  yakni panas matahari cukup berpotensi menghasilkan srinthil itupun  dilahan tertentu  saja.  
     “ Tanda-tanda  tembakau srintil mulai kelihatan  setelah 4 malam  diperam, keluar jamur kuning di daun tembakau yang jumlahnya bertambah banyak sampai  8 malam  hingga siap dirajang. Saat dirajang,  daun tembakau sudah lunak dan pekat karena  kadar nikotinnya tinggi dan baunya harum menyengat  seperti buah salak “ tuturnya seraya menambahkan  hasil tembakau rajangan setelah dianjang ( ditata )  di rigen  sedikitnya  butuh 3 hingga  5 hari penjemuran matahari  supaya kering dan siap jual.
     Menurutnya  berdasarkan catatan, masa kejayaan tembakau srintil dialami pada tahun 1977 yang harganya mencapai Rp.12.000/kg, pada saat itu harga beli pupuk kandang 1 truk hanya Rp.6.000, sehingga  1 kg srinthil bisa untuk beli pupuk 2 truk.  Sementara saat ini harga pupuk kandang  1 truk Rp.1.100.000 , sedang harga jual srinthil baru mencapai Rp.160.000 /kg dan diperkirakan paling tinggi Rp.600.000 /kg seperti tahun 2009 silam. Ia menuturkan  dalam kurun  9 tahun terakhir ini petani di desanya  acapkali menikmati  tembakau srintil yakni tahun 2002  ( Rp.150.000/kg ),  2003 ( Rp.200.000/kg ),  2004 ( Rp.250.000/kg ) , 2006 ( Rp.300.000/kg ), 2007 ( Rp.350.000/kg ) , 2008 ( Rp.500.00/kg ) dan 2009 ( Rp. 600.000/kg ) serta tahun 2011 ini sudah ada yang laku Rp.160.000/kg. Sedang tahun 2005 dan 2010 tidak keluar tembakau srintil karena curah hujan tinggi, sehingga kualitasnya rendah.
     Kepala Desa Tlilir Kemis menjelaskan , sedikitnya ada 100 petani yang pada tahun ini bercocok tanam tembakau  di lahan seluas  161 hektar. Jenis tembakau yang dibudidayakan varietas kemloko atau lebih dikenal sebutan gober genjah. Rata-rata tanaman tembakau tumbuh subur setiap pohonnya menghasilkan daun antara 18 – 20 lembar . Diutarakan petani mulai menanam pada awal bulan April  lalu  dan mulai memanen pada awal Agustus kemarin. Setiap kali memanen daun yang dipetik  antara 1 – 2 lembar, khusus untuk  panenan terakhir atau protholan  bisa mencapai 4 lembar daun.
     “ Cuaca pada musim panen tahun ini  sangat baik  sehingga  tembakau rajangan yang dihasilkan kualitas tinggi harga jualnya mahal. Untuk petikan pertama  grade A laku Rp.30.000/kg, grade B Rp.50.000/kg, grade C Rp.70.000/kg, grade D Rp.100.000, grade E Rp.125.000/kg dan grade F Rp.150.000/kg. Untuk grade G yakni srintil kualitas awal Rp.160.000/kg dan diperkirakan harganya semakin mahal seiring meningkatnya kualitas” ujarnya seraya menambahkan petani di desanya  secara konsisten mempertahankan kemurnian  dengan tidak mencampur  tembakau luar daerah /import.
     Di tempat terpisah Hendry, Sadono Salim dari perwakilan Djarum, Hartanto  greder perwakilan Gudang Garam dan Agung Purnomo greder tembakau perwakilan Djarum, mengatakan panen kali ini benar-benar membuat para petani tembakau tersenyum, cuaca sejak masa tanam sangat bagus sehingga tembakau yang dihasilkan petani kualitasnya sangat baik, otomastis kalau kualitas baik maka harga akan mengikuti. Pihaknya siap membeli tembakau milik petani berapapun jumlahnya sepanjang kualitasnya memenuhi standar yang ditentukan pabrikan.  ( Hms/ Edy Laks ).



sumber : http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=796

1 komentar: